Skip to content

Miqat Makani dan Zamani dalam Haji dan Umrah, Apa Bedanya?

Masjid Bir Ali, salah satu lokasi miqat makani bagi jemaah haji Indonesia.


Jakarta – Miqat adalah bagian wajib dalam rangkaian haji atau umrah karena merupakan tempat untuk melakukan ihram. Dengan kata lain, jemaah wajib mengganti amalan tersebut dengan dam atau denda bila meninggalkannya.
Menurut Gus Arifin dalam buku Peta Perjalanan Haji dan Umrah, miqat sendiri merupakan garis batas antara boleh atau tidak, atau perintah mulai atau berhenti seperti, membaca niat dan maksud melintasi batas antara tanah biasa dengan Tanah Suci. Batas ini dijelaskan Rasulullah SAW dalam haditsnya dari Ibnu Abbas RA.

إِنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَقَّتَ لأَهْلِ الْمَدِينَةِ ذَا الْحُلَيْفَةِ ، وَلأَهْلِ الشَّأْمِ الْجُحْفَةَ ، وَلأَهْلِ نَجْدٍ قَرْنَ الْمَنَازِلِ ، وَلأَهْلِ الْيَمَنِ يَلَمْلَمَ ، هُنَّ لَهُنَّ وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِهِنَّ ، مِمَّنْ أَرَادَ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ ، وَمَنْ كَانَ دُونَ ذَلِكَ فَمِنْ حَيْثُ أَنْشَأَ ، حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ مِنْ مَكَّةَ

Artinya: Dari Ibnu Abbas ra. berkata, “Rasulullah SAW. Menetapkan miqat bagi penduduk Madinah adalah Zulhulaifah, bagi penduduk Syam adalah Ju’fah, bagi penduduk Najd adalah Qarnul Manazil, dan bagi penduduk Yaman adalah Yalamlam,” Nabi bersabda, “Itulah miqat bagi mereka dan bagi siapa saja yang datang di sana yang bukan penduduknya yang ingin haji dan umrah, bagi yang lebih dekat dari itu (dalam garis miqat), maka dia (melaksanakan) ihram dari kampungnya, sehingga penduduk Mekah ihramnya dari Mekah,” (HR Muslim).

Perbedaan Miqat Makani dan Zamani
Miqat zamani adalah ketentuan waktu untuk melaksanakan ibadah haji yang dimulai sejak 1 Syawal hingga terbit fajar 10 Zulhijah menurut jumhur ulama. Sementara, miqat makani adalah ketentuan tempat di mana seseorang harus memulai niat haji atau umrah.

Berdasarkan keterangan hadits, ada lima lokasi yang ditetapkan menjadi lokasi miqat makani. Kelima lokasi tersebut ditujukan secara khusus bagi penduduk Madinah, Syam, Yaman, Irak, dan sekitarnya. Berikut daftarnya:

1. Zulhulaifah (Bir Ali), tempat miqat bagi penduduk Madinah dan yang melewatinya

2. Juhfah, tempat miqat penduduk Syam dan yang melewatinya

3. Qarnul Manazil (as-Sail), tempat miqat penduduk Najad dan yang melewatinya

4. Yalamlam, tempat miqat penduduk Yaman dan yang melewatinya

5. Zatu Irqin, tempat miqat penduduk Irak dan yang melewatinya

Bagaimana dengan miqat makani bagi jemaah Indonesia?
Miqat makani atau tempat jamaah haji dan umrah melakukan ihram bergantung pada urutan gelombang dari keberangkatan jemaah. Mengutip dari Tuntunan Manasik Haji dan Umrah terbitan Kemenag, berikut daftar lokasi miqat makani yang dilakukan oleh jemaah asal Indonesia.

1. Jemaah gelombang 1 yang mendarat di Madinah mengambil miqat di Bir Ali (Zulhulaifah).

2. Jemaah gelombang 2 bisa mengambil miqat di lokasi berikut:

a) Asrama haji embarkasi di tanah air. Berihram sebelum miqat masih dianggap sah menurut jumhur ulama seperti didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Umi Salamah RA.

“Dari Ummu Salamah RA Rasulullah SAW bersabda: ‘Siapa saja yang berihram haji atau umrah dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram, maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang dan pasti mendapat surga.'” (HR Baihaqi).

Namun, bagi jemaah yang telah memulai ihram dari asrama haji embarkasi wajib menjaga diri dari larangan ihram. Mulai dari perjalanan selama 8-11 jam hingga tahalul.

b) Dalam pesawat ketika pesawat melintas sebelum atau di atas Yalamlam atau Qarnul Manazil. Mengingat pesawat bergerak dengan kecepatan lebih dari 800 km/jam atau lebih dari 1 km/detik, jemaah hendaknya segera melaksanakan niat ihram setelah kru pesawat menyampaikan pengumuman.

c) Bandar Udara King Abdul Aziz (KAIA) Jeddah. Lokasi ini dijadikan miqat sejak Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa pada 28 Maret 1980 tentang keabsahan Bandara Jeddah dijadikan miqat lalu fatwa tersebut dikukuhkan kembali pada 19 September 1981.

Pada dasarnya, miqat adalah tempat atau waktu tertentu yang ditetapkan oleh Rasulullah SAW sebagai pintu masuk memulai haji dan umrah. Amalan ini mengisyaratkan pentingnya ruang dan waktu dalam menjalankan aktivitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *